PT Rifan Financindo Berjangka - Ivan Gunawan memasuki babak baru dalam perjalanan kariernya melalui film Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu?. Bagi Ivan, film produksi Falcon Pictures tersebut bukan sekadar proyek layar lebar, tetapi menjadi kesempatan untuk mengeksplorasi kemampuan akting secara lebih serius setelah hampir 25 tahun berkarier di dunia hiburan. Dalam film arahan Herwin Novianto itu, Ivan memerankan karakter bernama Prince, seorang desainer fesyen yang memiliki butik dan bisnis yang sukses. Karakter tersebut mempunyai kedekatan dengan keseharian Ivan yang selama ini dikenal sebagai desainer, sehingga pengalaman pribadinya di dunia fesyen turut membantu proses pendalaman karakter.
Namun, kedekatan profesi bukan berarti peran tersebut berjalan tanpa tantangan. Ivan justru mendapatkan arahan agar tampil lebih natural dan tidak sekadar memainkan karakter berdasarkan kebiasaan dirinya di dunia nyata. Proses reading dan latihan sebelum syuting menjadi bagian penting agar emosi setiap adegan dapat tersampaikan dengan lebih alami. Film Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 24 September 2026. Film ini mengangkat drama hubungan ibu dan anak dengan kisah Stella, diperankan Marsha Timothy, yang harus mempersiapkan putrinya, Rere, menghadapi kehidupan ketika dirinya sudah tidak lagi bisa mendampingi sang anak.
Ivan Gunawan Merasa Baru Benar-Benar Berakting
Ivan Gunawan mengungkapkan bahwa pengalaman bermain dalam Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? terasa berbeda dibandingkan pengalaman aktingnya sebelumnya. Setelah hampir 25 tahun berkecimpung di dunia hiburan, Ivan mengatakan dirinya baru merasa memperoleh kesempatan untuk benar-benar mengeksplorasi akting melalui film tersebut. Pernyataan itu disampaikan ketika menghadiri konferensi pers di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, pada 15 September 2026.
Menurut Ivan, faktor utama yang membuat pengalaman tersebut berbeda adalah karakter yang diberikan kepadanya. Prince bukan sekadar tokoh yang hadir sebagai pelengkap cerita, tetapi seorang desainer fesyen yang mempunyai lingkungan kerja dan dunia profesional yang cukup dekat dengan keseharian Ivan. Kedekatan tersebut memberinya ruang untuk memahami karakter secara lebih personal. Di sisi lain, sutradara tetap mengarahkan Ivan agar tidak sekadar menjadi dirinya sendiri di depan kamera. Pendekatan itulah yang kemudian membuat pengalaman syuting menjadi tantangan tersendiri.
Sutradara Minta Ivan Gunawan Berakting Natural
Salah satu tantangan terbesar Ivan dalam film ini justru datang dari arahan sutradara. Herwin Novianto meminta Ivan menampilkan karakter Prince secara natural. Arahan tersebut membuat Ivan harus membedakan antara gaya tampil sebagai dirinya sendiri dengan cara memainkan seorang karakter dalam cerita.
Ivan mengaku sebelumnya pernah merasa bahwa akting yang dilakukan terasa dibuat-buat. Dalam film ini, ia mendapat pendekatan berbeda karena diminta untuk merasakan adegan dan membangun respons berdasarkan situasi karakter. Arahan tersebut menjadi penting karena Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? bukan film yang hanya mengandalkan komedi. Cerita utamanya berkaitan dengan hubungan ibu dan anak, penyakit serius, persiapan menghadapi kehilangan, serta masa depan seorang anak. Karena itu, keseimbangan antara humor dan emosi menjadi bagian penting dari penampilan para pemeran.
Emosi Ivan Gunawan Berhadapan dengan Drama Keluarga
Film Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? memiliki pusat cerita yang berbeda dari kehidupan profesi Prince. Menurut data resmi Lembaga Sensor Film, film ini mengisahkan Stella, seorang ibu tunggal dan desainer gaun pengantin yang didiagnosis menderita kanker stadium akhir. Stella kemudian menggunakan sisa waktunya untuk mempersiapkan masa depan putrinya, Rere. Stella bahkan menyiapkan sebuah gaun masa depan, yaitu gaun pengantin yang kelak dapat dikenakan Rere. Di saat yang sama, Stella berusaha menciptakan kenangan bersama putrinya serta mengajarkan berbagai hal agar Rere mampu menjalani kehidupan setelah kepergiannya.
Konteks cerita tersebut membuat peran Ivan berada dalam film yang memiliki spektrum emosi cukup luas. Di satu sisi terdapat dunia fesyen, interaksi antarkaryawan, dan unsur komedi. Di sisi lain terdapat konflik mengenai penyakit, hubungan ibu dan anak, serta ketakutan menghadapi kehilangan.
Film Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? Bukan Sekadar Drama Sedih
Meskipun premis film berkaitan dengan penyakit dan kemungkinan kehilangan seorang ibu, film ini tidak hanya diarahkan sebagai drama yang penuh kesedihan. Ivan sendiri menggambarkan film tersebut sebagai karya yang memiliki unsur komedi sekaligus drama. Perpaduan itu memberikan ruang bagi penonton untuk mengalami perubahan suasana sepanjang cerita.
Pendekatan seperti ini juga terlihat dari komposisi pemerannya. Selain Marsha Timothy dan Fara Shakila, film tersebut melibatkan Praz Teguh, Ivan Gunawan, Sara Wijayanto, Kiki Narendra, Queen, Papham, Haruka Nakagawa, dan Kinaryosih. Keberadaan sejumlah pemeran dengan latar hiburan yang beragam memberikan warna berbeda pada cerita keluarga tersebut.
Marsha Timothy dan Fara Shakila Jadi Pusat Cerita
Marsha Timothy memerankan Stella, sedangkan Fara Shakila memerankan Rere.Hubungan kedua karakter tersebut menjadi inti emosional film. Stella harus menghadapi kondisi kesehatannya sendiri sekaligus mencari cara agar Rere dapat menerima kenyataan bahwa suatu saat ibunya tidak lagi berada di sisinya.
Bagi Rere, proses tersebut tentu tidak sederhana. Ia harus menghadapi perubahan dalam kehidupan keluarga dari sudut pandang seorang anak. Sementara itu, Stella berada pada posisi yang jauh lebih kompleks. Ia bukan hanya menghadapi penyakit, tetapi juga harus menyiapkan anaknya untuk menjalani kehidupan setelah dirinya pergi. Konflik tersebut membuat hubungan ibu dan anak menjadi pusat cerita.
Adaptasi Wedding Dress ke Film Indonesia
Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? bukan cerita orisinal yang sepenuhnya berdiri sendiri. Film ini merupakan adaptasi dari Wedding Dress, film Korea Selatan yang dirilis pada 2010. Premis utamanya tetap berpusat pada hubungan ibu dan anak serta persiapan menghadapi kehilangan. Namun, versi Indonesia menghadirkan pemeran dan lingkungan cerita yang disesuaikan dengan produksi lokal.
Adaptasi seperti ini memberikan tantangan tersendiri bagi pembuat film. Cerita harus mempertahankan inti emosional karya asal sekaligus terasa dekat dengan penonton Indonesia. Kehadiran Ivan sebagai desainer fesyen juga memperkuat elemen dunia busana dalam cerita versi Indonesia.
Ivan Gunawan dan Marsha Timothy Punya Dinamika di Dunia Fesyen
Salah satu elemen yang membedakan pengalaman Ivan dalam film ini adalah interaksinya dengan Marsha Timothy di lingkungan kerja Prince. Sebagai desainer fesyen dalam cerita, Prince memiliki pengetahuan teknis yang kemudian harus dipelajari Stella. Ivan ikut membantu Marsha memahami proses tersebut, termasuk mengenai cutting dan pemilihan bahan.
Detail seperti ini penting untuk menciptakan dunia film yang meyakinkan. Ketika seorang karakter digambarkan bekerja sebagai desainer atau asisten desainer, penonton dapat melihat bagaimana profesi tersebut dijalankan melalui tindakan, bukan hanya melalui dialog. Kedekatan Ivan dengan dunia fesyen menjadi keuntungan tersendiri untuk kebutuhan karakter Prince.
Tantangan Ivan: Menjadi Karakter, Bukan Sekadar Menjadi Diri Sendiri
Kesamaan profesi antara Ivan dan Prince dapat menjadi keuntungan sekaligus tantangan. Keuntungannya, Ivan sudah memahami dunia fesyen. Ia mengetahui istilah, proses kerja, bahan, dan dinamika yang mungkin muncul di sebuah butik.
Namun, karakter Prince tetap merupakan tokoh dalam sebuah cerita. Ivan harus memastikan penampilannya tidak sekadar terlihat seperti dirinya sendiri ketika sedang bekerja sebagai desainer. Arahan Herwin Novianto mengenai akting natural menjadi penting dalam konteks tersebut. Ivan perlu menampilkan karakter yang terasa hidup tanpa membuatnya terlihat terlalu dibuat-buat.
Kampanye Falcon Pictures Libatkan Cerita Nyata Penonton
Menjelang penayangan film, Falcon Pictures juga mengajak masyarakat berpartisipasi melalui kampanye bertema “Apa Jadinya Aku Tanpa Ibu?” Masyarakat diajak mengunggah foto bersama ibu atau foto sang ibu disertai cerita singkat. Dari partisipasi tersebut, sebanyak 100 foto direncanakan ditampilkan pada bagian akhir film.
Konsep tersebut membuat promosi film tidak hanya berfokus pada pemeran dan trailer. Cerita pribadi masyarakat mengenai hubungan mereka dengan ibu turut menjadi bagian dari kampanye film. Bagi Herwin Novianto, foto sederhana dapat menyimpan cerita personal yang sangat kuat. Karena itu, kampanye tersebut diarahkan untuk mengajak masyarakat berhenti sejenak dan mengingat kembali peran ibu dalam kehidupan mereka.
Makna Hubungan Ibu dan Anak Menjadi Benang Merah
Di balik kisah penyakit dan persiapan menghadapi kehilangan, film ini membawa tema mengenai hubungan ibu dan anak. Stella tidak dapat mengendalikan berapa lama dirinya akan berada bersama Rere. Yang dapat ia lakukan adalah menggunakan waktu yang tersedia untuk menciptakan kenangan dan membekali anaknya.
Konsep tersebut membuat persiapan menjadi salah satu elemen utama cerita. Gaun pengantin yang dibuat Stella menjadi salah satu simbol persiapan tersebut. Gaun itu dibuat untuk masa depan yang mungkin tidak dapat disaksikan Stella secara langsung. Di sinilah judul Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? memperoleh konteks emosionalnya. Pertanyaan tersebut menggambarkan ketakutan seorang anak menghadapi kemungkinan kehilangan sosok yang selama ini menjadi bagian penting kehidupannya.