PT Rifan Financindo Berjangka - Dito Darmawan menjadi salah satu pemeran utama dalam film Conjurig dengan karakter Piit, seorang pemuda yang memilih menjadi cosplayer pocong di Bandung. Peran tersebut menghadirkan tantangan tersendiri karena Dito harus tampil dengan riasan tebal, kostum pocong, sekaligus menyampaikan emosi karakter yang kompleks.
Menariknya, Conjurig menjadi pengalaman berbeda bagi Dito karena ia mengungkapkan bahwa dirinya mendapatkan peran tersebut tanpa melalui proses casting. Karakter Piit justru terasa dekat dengan perjalanan yang ingin ia tampilkan dalam film drama komedi tersebut.
Film Conjurig dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 1 Oktober 2026. Lembaga Sensor Film mencatat film ini berdurasi 95 menit, bergenre drama dan komedi, serta diklasifikasikan untuk penonton usia 13 tahun ke atas.
Dito Darmawan Memerankan Piit, Cosplayer Pocong di Conjurig
Dalam Conjurig, Dito Darmawan berperan sebagai Piit atau Ace Abdulov, seorang pemuda yang mengalami persoalan dalam kehidupan pekerjaan dan percintaan.
Piit sebelumnya bekerja di sebuah perusahaan multinasional. Namun, tekanan dari atasannya membuat ia memutuskan meninggalkan pekerjaannya dan kembali ke Bandung. Kepulangannya tidak serta-merta menyelesaikan masalah karena hubungan dengan kekasihnya, Susan, juga berakhir.
Dalam situasi tersebut, Piit kemudian menjalani kehidupan baru sebagai cosplayer pocong di kawasan Alun-alun Bandung.
Profesi tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan karakter Piit. Kostum pocong yang dikenakannya bukan sekadar unsur komedi, melainkan menjadi medium bagi karakter untuk menjalani kehidupan setelah kehilangan arah.
Di balik penampilannya sebagai pocong, Piit tetap harus menghadapi persoalan pribadi, rasa kehilangan, pencarian identitas, serta keinginan untuk menemukan kembali tujuan hidup.
Dito Darmawan Jadi Pocong Tidak Semudah yang Dibayangkan
Memerankan pocong ternyata memberikan tantangan tersendiri bagi Dito Darmawan.
Ia harus mengenakan riasan tebal dan kostum yang membatasi gerak sekaligus menjalani pengambilan gambar yang tidak selalu berlangsung pada malam hari. Kondisi tersebut membuat pengalaman menjadi cosplayer pocong di depan kamera jauh berbeda dari bayangan sederhana mengenai karakter hantu.
Dito mengungkapkan bahwa proses tersebut membuatnya harus menemukan cara tersendiri untuk menyampaikan emosi Piit.
Persoalannya bukan hanya bagaimana terlihat seperti pocong, tetapi bagaimana karakter tetap terasa hidup ketika sebagian besar ekspresi wajah tertutup riasan dan keseluruhan tubuh dibatasi kostum.
Piit merupakan karakter dengan lapisan emosi yang cukup beragam. Ia mengalami kesedihan, kehilangan hubungan, menghadapi perubahan pekerjaan, dan berusaha menutupi luka yang dialaminya.
Karena itu, tantangan akting Dito tidak berhenti pada aspek visual.
Riasan Pocong Dito Darmawan Membutuhkan Waktu Sekitar 2 Jam
Salah satu bagian paling menarik dari pengalaman Dito adalah rutinitas riasan sebelum syuting.
Untuk menjadi Piit dalam wujud pocong, Dito membutuhkan waktu sekitar dua jam setiap hari untuk menyelesaikan riasan. Proses tersebut dilakukan secara manual menggunakan kuas, kemudian dilanjutkan dengan penyemprotan agar hasil riasan lebih merata dan bertahan selama proses pengambilan gambar.
Dalam proses tersebut, Dito juga harus berhati-hati agar material riasan tidak masuk ke hidung. Ia bahkan perlu menahan napas pada beberapa tahap aplikasi.
Setelah menjalani proses tersebut berulang kali, Dito mulai terbiasa. Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya kemudian mampu melakukan riasan sendiri ketika diperlukan.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa penampilan pocong dalam film membutuhkan persiapan yang cukup panjang sebelum kamera mulai merekam.
Syuting Siang Hari Menjadi Tantangan bagi Dito
Karakter pocong sering kali identik dengan suasana malam, tempat gelap, dan adegan bernuansa menyeramkan.
Namun, Conjurig memiliki pendekatan berbeda.
Film ini mengangkat kehidupan cosplayer hantu yang tampil di ruang publik Bandung. Karena itu, Dito harus menjalani proses syuting dalam kondisi yang tidak selalu gelap atau dingin.
Riasan tebal dan kostum pocong harus tetap dikenakan ketika pengambilan gambar berlangsung pada siang hari.
Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan fisik terbesar dalam proses produksi. Dito juga harus mempertahankan karakter meskipun kondisi pengambilan gambar tidak selalu memberikan suasana seperti film horor konvensional.
Conjurig Menjadi Film Dito Darmawan yang Tidak Melalui Casting
Hal lain yang membuat pengalaman Dito di Conjurig berbeda adalah proses mendapatkan perannya.
Dito menyebut Conjurig sebagai proyek pertamanya yang tidak melalui proses casting. Ia langsung dipercaya memainkan karakter Piit dalam film tersebut.
Bagi Dito, keputusan tersebut memberikan pengalaman baru dalam mempersiapkan karakter.
Ia merasa memiliki kedekatan tertentu dengan Piit, terutama dalam aspek pencarian arah hidup dan bagaimana seseorang dapat menemukan dirinya di lingkungan yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya.
Kedekatan tersebut menjadi salah satu dasar Dito dalam membangun karakter Piit.
Dito Darmawan Turun Langsung ke Jalan untuk Riset Karakter
Persiapan Dito untuk memerankan Piit tidak hanya dilakukan melalui pembacaan naskah.
Ia juga turun langsung ke jalan dan berbicara dengan cosplayer hantu yang menjalani aktivitas tersebut di Bandung. Dalam proses persiapan, Dito ditemani aktor senior Joe P Project.
Pertemuan tersebut memberi Dito gambaran lebih nyata mengenai kehidupan para cosplayer hantu.
Menurut pengalamannya, aktivitas tersebut bukan sekadar cara mendapatkan penghasilan. Ada pula unsur kecintaan terhadap aktivitas yang mereka jalani.
Pengalaman bertemu langsung dengan para cosplayer kemudian menjadi bagian penting dalam membangun perspektif Dito terhadap Piit.
Ia melihat bahwa mengenakan kostum yang panas dan riasan tebal selama beraktivitas di ruang publik membutuhkan ketekunan.
Dengan melakukan riset langsung, Dito memperoleh gambaran mengenai gestur, cara berinteraksi, serta sisi manusiawi di balik profesi tersebut.
Conjurig Terinspirasi Komunitas Cosplayer Hantu di Bandung
Cerita Conjurig tidak sepenuhnya muncul dari ruang fiksi.
Film ini terinspirasi dari fenomena komunitas Comjurig, kelompok cosplayer hantu yang beraktivitas di kawasan Asia Afrika dan Braga, Bandung.
Fenomena tersebut kemudian dikembangkan menjadi cerita film dengan menggabungkan unsur drama, komedi, percintaan, dan kehidupan sehari-hari.
Lembaga Sensor Film mencatat tema film ini sebagai kehidupan cosplayer di Alun-alun Bandung. Sutradara sekaligus penulis skenario Conjurig adalah Tubagus Deddy.
Dengan latar tersebut, film tidak hanya menjadikan kostum hantu sebagai unsur visual, tetapi juga memperlihatkan kehidupan orang-orang yang berada di balik kostum.
Pesan tentang Kejujuran Menjadi Bagian Penting Cerita
Tubagus Deddy menjelaskan bahwa kehidupan para cosplayer menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan kejujuran dan identitas.
Para cosplayer secara terbuka menunjukkan pekerjaan yang mereka pilih untuk mendapatkan penghasilan sekaligus menjalankan passion. Film kemudian mengembangkan gagasan tentang bagaimana seseorang dapat mengenakan "topeng" dalam kehidupan sehari-hari meskipun tidak benar-benar menggunakan kostum.
Gagasan tersebut memperluas makna kostum pocong dalam cerita.
Bagi Piit, kostum menjadi pekerjaan sekaligus ruang untuk menyembunyikan persoalan pribadi. Ia terlihat sebagai sosok yang berbeda ketika mengenakan kostum, tetapi tetap membawa persoalan yang sama di baliknya.
Pertemuan Piit dan Tamy Menjadi Titik Penting Cerita
Perjalanan Piit berubah ketika ia bertemu Tamy, karakter yang diperankan Maizura.
Tamy merupakan cosplayer gothic misterius yang menyimpan identitas keluarganya. Pertemuan keduanya mempertemukan dua karakter yang sama-sama sedang mencari arah kehidupan.
Piit menghadapi persoalan pekerjaan dan hubungan asmara, sedangkan Tamy berusaha menghadapi bayang-bayang identitas keluarganya.
Keduanya kemudian membangun hubungan yang berkembang di tengah kehidupan komunitas cosplayer Bandung.
Cerita tersebut membuat Conjurig tidak hanya berfokus pada aktivitas cosplay, tetapi juga mengeksplorasi hubungan antarmanusia, pencarian identitas, dan kesempatan untuk memulai kembali.
Sinopsis Film Conjurig
Conjurig mengikuti perjalanan Piit, seorang pemuda yang kehidupannya mengalami perubahan setelah persoalan pekerjaan dan percintaan.
Setelah meninggalkan pekerjaannya di perusahaan multinasional dan kembali ke Bandung, Piit menghadapi kenyataan bahwa hubungan dengan Susan juga berakhir.
Untuk menjalani hari-harinya, Piit kemudian menjadi cosplayer pocong di Alun-alun Bandung.
Dalam kehidupan barunya tersebut, Piit bertemu Tamy, cosplayer gothic misterius yang menyimpan latar belakang keluarga tersendiri.
Keduanya kemudian membangun kedekatan di tengah kehidupan komunitas cosplayer hantu Bandung.
Lembaga Sensor Film menggambarkan Piit sebagai pemuda yang kehilangan arah dalam karier dan kehidupan percintaannya. Pertemuannya dengan Tamy kemudian menjadi bagian dari perjalanan keduanya untuk menemukan kembali arah kehidupan masing-masing.
Hubungan Dito Darmawan dan Maizura dalam Conjurig
Karakter Piit dan Tamy menjadi pusat hubungan dalam cerita.
Keduanya digambarkan sebagai dua orang yang sedang menghadapi persoalan masing-masing. Piit berusaha bangkit setelah kehilangan pekerjaan dan hubungan asmara, sementara Tamy menyimpan persoalan mengenai identitas keluarganya.
Pertemuan mereka kemudian menjadi ruang untuk saling mengenal sekaligus menghadapi masalah yang selama ini disembunyikan.
Hubungan tersebut membuat unsur romantis dalam Conjurig berjalan berdampingan dengan komedi dan drama kehidupan komunitas cosplayer.
Proses Syuting Conjurig Berlangsung di Bandung
Bandung bukan hanya menjadi lokasi cerita, tetapi juga menjadi bagian penting dari proses produksi.
Menurut Dito, seluruh proses persiapan dan pengambilan gambar berlangsung di Bandung. Kondisi tersebut memberinya kesempatan untuk lebih dekat dengan lingkungan yang menjadi inspirasi karakter Piit.
Latar kawasan Asia Afrika, Braga, dan Alun-alun Bandung memperkuat identitas lokal film.
Kehadiran komunitas cosplayer hantu juga menjadi elemen yang membuat cerita terasa berangkat dari fenomena kehidupan perkotaan, bukan semata-mata dari konsep karakter hantu fiktif.
Bukan Film Horor, Conjurig Mengusung Drama Komedi
Meski menggunakan karakter pocong dan cosplayer hantu, Conjurig bukan film horor murni.
Lembaga Sensor Film mengategorikan film ini sebagai drama dan komedi. Ceritanya menggabungkan humor, percintaan, dan realitas kehidupan sehari-hari para cosplayer.
Konsep tersebut membuat keberadaan pocong dalam film memiliki fungsi yang berbeda.
Pocong bukan hanya karakter untuk menimbulkan ketakutan, melainkan bagian dari profesi yang dijalani Piit.
Pendekatan ini juga memungkinkan cerita mengeksplorasi sisi kehidupan para cosplayer, termasuk alasan mereka menjalani aktivitas tersebut dan bagaimana masyarakat melihat mereka.
Dito Darmawan Membawa Sisi Manusia di Balik Kostum Pocong
Peran Dito sebagai Piit memperlihatkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya memakai kostum pocong.
Ia harus membuat karakter tetap memiliki emosi meskipun wajah dan tubuhnya sebagian besar tertutup oleh riasan serta kostum.
Proses riset langsung dengan cosplayer hantu Bandung membantu Dito memahami bahwa aktivitas tersebut memiliki dimensi kehidupan yang lebih luas. Para cosplayer tidak hanya mencari penghasilan, tetapi juga menjalankan sesuatu yang mereka sukai.
Dari perspektif tersebut, Piit dapat dipahami sebagai karakter yang menggunakan pekerjaan barunya untuk menjalani fase kehidupan yang tidak pernah direncanakannya.
Kostum pocong kemudian menjadi bagian dari perjalanan Piit dalam menemukan kembali dirinya.
Conjurig Hadirkan Cerita Lokal Bandung ke Layar Lebar
Salah satu elemen utama Conjurig adalah penggunaan Bandung sebagai latar sekaligus sumber inspirasi cerita. Komunitas cosplayer hantu di kawasan wisata Bandung menjadi titik awal pengembangan cerita. Dari lingkungan tersebut, film membawa persoalan pekerjaan, percintaan, identitas, keluarga, dan pencarian arah hidup ke dalam satu cerita drama komedi.
Dito Darmawan kemudian menjadi wajah utama dari perjalanan tersebut melalui karakter Piit.
Pengalaman menjadi pocong dengan riasan sekitar dua jam, melakukan riset langsung ke komunitas, hingga menjalani syuting di Bandung menjadi bagian dari proses pembentukan karakter yang akan ditampilkan di layar.